Isu Sosial

Hari Ibu dan Realitas Perempuan Masa Kini: Di Antara Peran, Pilihan, dan Tekanan Sosial

N Nandyta Alifia Denila Didha Putri Hartono Terverifikasi Penulis
23 Desember 2025, 04:34 3 menit baca 486x dilihat
Hari Ibu dan Realitas Perempuan Masa Kini: Di Antara Peran, Pilihan, dan Tekanan Sosial
Winnicode Officials

Setiap 22 Desember, Hari Ibu diperingati dengan beragam cara. Sekolah menggelar lomba, media sosial dipenuhi unggahan foto bersama ibu, dan ucapan terima kasih mengalir deras. Namun di balik perayaan yang hangat itu ada masalah yang juga berkembang beriringan tanpa disadari, perempuan terutama ibu menjalani dengan tuntutan yang kian berlapis.

Di pagi hari, banyak ibu memulai aktivitas lebih awal dari anggota keluarga lainnya. Menyiapkan sarapan, mengurus anak, lalu bersiap bekerja, baik di rumah maupun di luar rumah. Rutinitas ini bukan cerita baru, tetapi konteksnya kini berbeda. Perempuan masa kini hidup di era ketika peran domestik dan profesional berjalan bersamaan, tanpa selalu diiringi pembagian tanggung jawab yang setara.

Perubahan sosial telah membuka ruang bagi perempuan untuk mengakses pendidikan dan karier. Data partisipasi perempuan di dunia kerja terus meningkat. Namun, perubahan ini tidak selalu dibarengi dengan pergeseran cara pandang terhadap peran ibu di dalam keluarga. Beban pengasuhan dan urusan rumah tangga masih kerap dilekatkan pada perempuan, bahkan ketika ia juga berkontribusi secara ekonomi.

Di sinilah peran ganda perempuan menjadi kenyataan sehari-hari. Seorang ibu dituntut produktif di tempat kerja, sekaligus hadir penuh di rumah. Ketika salah satu peran terasa kurang maksimal, rasa bersalah sering muncul. Bukan karena kegagalan personal semata, melainkan karena standar sosial yang terus membayangi.

Tekanan tersebut semakin terasa di era digital. Media sosial menghadirkan potret ibu ideal versi layar, ibu yang berhasil adalah ibu yang anaknya berprestasi, rumah tertata, karier berjalan, dan waktu keluarga tetap hangat. Representasi ini tidak selalu keliru, tetapi kerap tidak utuh. Yang jarang terlihat adalah kelelahan, konflik batin, atau kompromi yang harus dibuat setiap hari.

Bagi sebagian perempuan, Hari Ibu justru menjadi momen refleksi. Bukan hanya tentang menjadi anak bagi ibu mereka, tetapi juga tentang posisi mereka sendiri sebagai perempuan, entah sudah menjadi ibu atau belum. Hari Ibu membuka percakapan tentang pilihan hidup, menjadi ibu rumah tangga, ibu bekerja, atau memilih jalur yang berbeda dari ekspektasi sosial.

Namun pilihan-pilihan tersebut belum sepenuhnya bebas dari stigma. Perempuan yang bekerja sering ditanya soal waktu untuk keluarga, sementara perempuan yang memilih fokus di rumah tak jarang dianggap kurang produktif. Dalam situasi ini, ibu tidak selalu diberi ruang untuk menjadi individu yang utuh, dengan kebutuhan, ambisi, dan batasan personal.

Padahal, melihat ibu sebagai manusia adalah kunci memahami tantangan perempuan masa kini. Ibu bukan sekadar peran, melainkan identitas yang dijalani bersama identitas lain. Ia bisa lelah, ragu, bahkan gagal, tanpa kehilangan makna keibuannya. Perspektif ini penting, terutama ketika Hari Ibu kerap memproduksi narasi pengorbanan tanpa jeda.

Seiring waktu, makna Hari Ibu pun bergeser. Ia tidak lagi sekadar peringatan historis, tetapi juga penanda isu-isu yang lebih fundamental, yakni kesetaraan gender, kesehatan mental perempuan, hingga pembagian peran dalam keluarga. Apresiasi kepada ibu kini dituntut lebih konkret, tidak berhenti pada simbol, melainkan tercermin dalam dukungan sehari-hari.

Di banyak keluarga, perubahan itu mulai terlihat. Pembagian tugas yang lebih setara, pengakuan terhadap kerja domestik, serta ruang dialog antara pasangan menjadi bagian dari cara baru memaknai peran ibu. Meski belum merata, langkah-langkah kecil ini menunjukkan bahwa cara pandang terhadap perempuan perlahan bergerak.

Hari Ibu, pada akhirnya, menjadi cermin sosial. Ia memperlihatkan sejauh mana masyarakat memahami dan menghargai realitas perempuan masa kini. Bukan dengan menempatkan ibu di atas pedestal, melainkan dengan berdiri di sampingnya, mendengar, memahami, dan berbagi tanggung jawab.

Di sanalah makna Hari Ibu menemukan relevansinya hari ini, Hari Ibu sebagai pengingat bahwa menghormati ibu berarti juga menciptakan ruang hidup yang lebih adil bagi perempuan, setiap hari, bukan hanya pada satu tanggal di kalender.

Komentar 0

Komentar (0)

Sampaikan pendapat Anda dengan santun.

G
Anda belum masuk, komentar akan tampil sebagai Guest. Masuk
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.