Budaya Tidak Enakan dalam Hierarki Sosial yang Membentuk Cara Kita Bicara dan Diam
Di balik keramahan yang menjadi kebanggaan banyak orang Indonesia, tersembunyi pola komunikasi yang jarang dibicarakan: budaya tidak enakan. Ketika pola ini bertemu dengan hierarki sosial yang kaku, kita belajar lebih sering diam daripada jujur, lebih sering mengiyakan daripada menyampaikan keberatan. Akibatnya, suara yang seharusnya memperbaiki keadaan justru tenggelam dalam sopan santun yang keliru.
Budaya tidak enakan bukan sekadar perkara kebiasaan pribadi. Ia tumbuh dari sejarah panjang masyarakat yang menjunjung tinggi harmoni, penghormatan pada yang lebih tua, serta pentingnya menjaga hubungan sosial. Dalam banyak konteks, sifat ini membawa kehangatan dan kedekatan. Namun dalam situasi tertentu, ia juga dapat menjadi hambatan komunikasi yang membuat seseorang memilih diam meski ada masalah yang perlu disampaikan.
Dalam hubungan keluarga, sekolah, maupun tempat kerja, pola ini muncul dalam berbagai bentuk: enggan menolak permintaan meski memberatkan; takut mengoreksi atasan meski keputusan mereka berisiko; atau memilih membiarkan situasi tidak nyaman demi menjaga “perasaan orang lain”.
Struktur sosial di Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh hierarki—berdasarkan usia, status, jabatan, hingga kedudukan ekonomi. Ketika hierarki bertemu budaya tidak enakan, lahirlah relasi komunikasi yang timpang. Pihak yang berada di bawah sering merasa tak punya ruang untuk berbicara, sementara mereka yang berada di atas terbiasa tidak ditentang.
Kondisi ini menciptakan ruang di mana ketidakadilan bisa berlangsung tanpa suara. Pegawai enggan melapor ketika diperlakukan tidak adil. Mahasiswa segan mengkritik birokrasi kampus. Warga takut menegur pemimpin lokal meski kebijakan mereka keliru. Diam menjadi benteng pertahanan, bukan pilihan sadar.
Kombinasi antara rasa tidak enakan dan hierarki membuat banyak keputusan tidak didasarkan pada kejelasan, melainkan pada keengganan konflik. Pertemuan menjadi formalitas, bukan forum diskusi. Kesalahan jarang dikoreksi sehingga terus berulang. Kreativitas terhambat karena orang takut terlihat menentang. Dalam jangka panjang, organisasi—baik sekolah, kantor, maupun komunitas—kehilangan kesempatan untuk berkembang. Individu pun menanggung beban mental karena harus menahan pendapat demi menjaga harmoni yang semu.
Budaya tidak enakan merefleksikan nilai kepedulian dan keinginan menjaga hubungan sosial. Yang perlu dilakukan adalah menempatkannya pada porsi yang tepat. Sopan santun tetap bisa berjalan seiring dengan keberanian berbicara. Menghormati orang lain tidak harus mengorbankan kejujuran atau keselamatan.
Perubahan dapat dimulai dengan membangun ruang aman di mana kritik tidak dianggap ancaman, tetapi bagian dari proses belajar. Di keluarga, orang tua bisa memberi contoh bahwa pendapat anak layak didengar. Di kantor, pemimpin perlu membuka ruang diskusi tanpa hukuman. Di masyarakat, warga harus merasa bahwa suara mereka punya arti.
Pada akhirnya, budaya tidak enakan bukan sesuatu yang harus diputus total, melainkan dipahami ulang. Kita bisa tetap menjaga kerukunan tanpa kehilangan keberanian untuk menyampaikan pendapat. Kita bisa menghormati hierarki tanpa membiarkan suara kritis tenggelam. Ketika kita belajar berbicara dengan jujur dan mendengar tanpa defensif, relasi sosial menjadi lebih setara. Diam tetap memiliki tempat, tetapi bukan lagi sebagai bentuk ketakutan—melainkan pilihan sadar yang matang.