"Mencetak Merdeka Belajar Sesungguhnya: Visi Sarjana Pendidikan di Luar Kurikulum Negara"
Tahukah Kamu? – Bahwa banyak lulusan Sarjana Pendidikan saat ini sedang mengalami perang batin yang hebat antara idealisme mengajar dan kenyataan pahit di lapangan. Fenomena ini menyebabkan banyak sarjana baru, termasuk saya, memilih untuk tidak langsung terjun ke dunia keguruan formal. Keputusan ini sering kali dicap negatif, seolah kami tidak pandai menyampaikan ilmu atau tidak paham arti keikhlasan seorang guru. Padahal, alasan di baliknya jauh lebih dalam: kami tidak ingin menjadi bagian dari sistem yang memosisikan guru hanya sebagai pelaksana teknis yang "disetir" oleh aturan yang sering kali berubah-ubah.
Siapa yang paling merasakan dampak ini? Tentu saja para pendidik yang di baris depan. Di Indonesia, guru seolah diposisikan sebagai kelinci percobaan bagi kebijakan atau kurikulum baru yang belum tentu cocok dengan kebutuhan nyata siswa. Mengapa saya memilih untuk menepi sejenak? Karena saya melihat adanya ketidakadilan dalam cara negara menghargai guru. Kita bisa melihat fakta di lapangan bagaimana gaji guru honorer di banyak daerah masih sangat memprihatinkan, bahkan sering kali lebih kecil dibandingkan upah buruh harian. Padahal, tanggung jawab moral yang dipikul guru menyangkut masa depan satu generasi.
Kapan perubahan ini akan terjadi jika kita hanya diam? Bagi saya, cara terbaik untuk berjuang adalah dengan keluar sejenak dari sistem. Saya memilih untuk berhenti sejenak dari dunia pendidikan formal untuk belajar dan mencari modal di bidang lain. Strategi ini saya ambil agar kelak saya memiliki kemandirian finansial yang kuat. Apa tujuannya? Saya ingin membangun sekolah sendiri entah itu sekolah pinggir jalan untuk kaum dhuafa, sebuah yayasan, atau sekolah berkualitas tinggi yang memiliki kedaulatan penuh.
Saya bermimpi menciptakan lembaga yang tidak kaku dan tidak melulu terjebak dalam beban administratif birokrasi. Saya ingin mencampurkan sistem pendidikan luar negeri yang sudah maju di mana guru sangat dimuliakan dengan kearifan lokal kita. Di sekolah itu nanti, guru akan punya kebebasan penuh untuk berinovasi dan dihargai secara layak, sehingga mereka bisa mengajar dengan hati, bukan karena tuntutan laporan semata.
Pendidikan seharusnya memerdekakan, bukan mengekang. Dengan membangun kemandirian di luar sistem formal yang ada sekarang, saya berharap bisa membuktikan bahwa kualitas pendidikan terbaik lahir dari penghargaan yang tinggi terhadap para gurunya dan kebebasan dalam menyebarkan ilmu.
Oleh karena itu, keputusan saya untuk tidak menjadi guru di bawah sistem saat ini adalah sebuah langkah strategis untuk membangun fondasi pendidikan mandiri yang lebih menghargai martabat guru dan kebebasan berpikir, demi menciptakan sekolah masa depan yang benar-benar berfokus pada kemajuan siswa tanpa harus terbelenggu oleh kebijakan yang membatasi ruang gerak kreativitas.