Permainan Tradisional Tergerus Gawai, Purbalingga Hidupkan Kembali Lewat Festival Dolanan
Purbalingga, 13 November 2025 — Dalam upaya melestarikan permainan tradisional anak-anak yang mulai langka karena menggantikan waktu mereka dengan gawai, Pemerintah Kabupaten Purbalingga melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) menggelar Festival Dolanan Tradisional di Museum Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja.
Sekretaris Dindikbud Purbalingga, Joko Sumarno, menyatakan bahwa dolanan anak—seperti dakon, kodok-pedot, dam-daman, egrang, dan kaki-seribu—sudah jarang ditemukan dalam kegiatan anak sehari-hari karena digantikan oleh smartphone. “Langka diselenggarakan dan langka ditemukan,” kata Joko dalam sambutannya.
Festival ini diikuti pelajar SMP se-Kabupaten Purbalingga dan menampilkan lomba dakon serta pentas dolanan tradisional asli Kabupaten Purbalingga yang mulai punah. Festival Dolanan Tradisional dilaksanakan pada hari Kamis, 13 November 2025, khusus untuk kalangan Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Tujuan utama kegiatan adalah menghidupkan kembali kebudayaan lokal dalam bentuk permainan tradisional yang mengandung nilai karakter—seperti berhitung, sportifitas, dan keseimbangan mental—yang diyakini masih relevan dalam pengembangan anak.
Masyarakat pendidikan menerangkan bahwa dolanan tradisional bukan sekadar hiburan, tetapi bagian penting dari warisan budaya yang memiliki kontribusi dalam pembentukan karakter anak. Namun, tantangan terbesar adalah dominasi gawai dan permainan digital yang membuat aktivitas luar ruang dan sosial anak menjadi terbatas.
Melalui festival ini, Pemkab Purbalingga berharap bahwa kegiatan dolanan tradisional tidak hanya hadir dalam acara tahunan, tetapi kembali menjadi bagian dari keseharian anak-anak di sekolah dan lingkungan masyarakat.