Mengenal Tan Malaka: Bapak Indonesia Yang Senyap Dalam Buku Sejarah
Soekarno dan Hatta adalah nama tokoh penting dalam sejarah karena dianggap sebagai pionir berdirinya bangsa. Tapi tahukah kalian bahwa konsep negara Republik Indonesia telah dirumuskan lebih awal sebelum Indonesia merdeka dan hal tersebut bukan buah hasil pemikiran Soekarno atau pun Hatta?
Namanya dikenal sebagai Tan Malaka, perumus bentuk negara Indonesia ini menjadi republik. Tokoh ini telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 1963. Meskipun demikian, jejak-jejak perjuangannya jarang muncul dalam buku-buku sejarah di sekolah. Lalu mengapa tokoh sepenting ini mendapat sorotan yang minim pada proses pembelajaran sejarah bagi generasi penerus?
Rangkaian seremonial Hari Pahlawan menjadi momentum yang tepat untuk lebih mengenal para Pahlawan Nasional Bangsa. Berikut adalah perjalanan hidup, gagasan dan warisan pemikiran Tan Malaka yang perlu dipahami oleh kita para generasi penerus.
Latar Belakang dan Perjalanan Hidup Awal
Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka merupakan nama lain dan gelar milik pria kelahiran 1897 tersebut. Tan Malaka berasal dari Sumatera Barat, tepatnya di daerah Pandan Gadang. Sejak kecil, Tan Malaka tumbuh dalam lingkungan masyarakat suku Minangkabau yang konservatif dengan tradisi dan kebudayaan yang dimiliki. Oleh sebab itulah Tan Malaka akrab dan menjaga kegiatan belajar dan berdiskusi sebagai sebuah tradisi. Tan Malaka sejak usia belia dikenal sebagai pribadi yang tenang, tak banyak bicara tetapi memiliki ketajaman dalam berpikir dan menganalisis.
Intelektualitas Tan Malaka bermuara ketika dirinya menempuh pendidikan. Tan Malaka pernah bersekolah di Suliki. Setelahnya, Tan Malaka melanjutkan pendidikan di satu-satunya sekolah pribumi di Sumatra Barat, Inlandsche Kweekschool voor Onderwijzers. Tan Malaka berhasil menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1913.
Tidak berhenti di situ, Tan Malaka kemudian melanjutkan proses studinya ke Belanda, yakni di Rijkskweekschool Haarlem sejak tahun 1913 hingga 1919. Ketika di Belandalah Tan Malaka berkenalan dengan pemikiran sosialisme, politik, dan perlawanan terhadap kolonialisme. Proses inilah yang membentuk fondasi dan arah politik Tan Malaka ke depan.
Ketika kembali ke Indonesia Tan Malaka memilih bergabung ke dalam organisasi pergerakan dan aktif menulis, langkah ini kemudian menempatkannya sebagai salah satu intelektual muda paling progresif pada eranya.
Gagasan Revolusioner dan Perjuangan Tan malaka
Tan Malaka memiliki jalan berbeda jika membicarakan perihal perjuangan dan pergerakan. Tan Malaka tidak bergerak melalui cara diplomasi seperti tokoh-tokoh pergerakan terkemuka kala itu. Tan Malaka berkecenderungan pada pemikiran revolusi dan dengan tegas menolak kompromi dengan Belanda. Langkah perjuangan miliknya merujuk pada pergerakan militan radikal yang melalui proses berpikir.
Sepulang dari Belanda, Tan Malaka aktif mengajar. Selain itu, dirinya aktif dalam organisasi Sarekat Islam bersama H.O.S. Tjokroaminoto. Tidak berselang lama, Tan Malaka bergabung dengan PKI bahkan menjabat sebagai ketua pada periode 1921. Namun, karena tidak sepaham dengan para anggota PKI tentang langkah pemberontakan di tahun 1926, Tan Malaka memilih hengkang dari organisasi tersebut. Tak berselang lama, Tan Malaka membentuk Partai Republik Indonesia (PARI) di Bangkok pada 1927. Organisasi ini digunakan sebagai persiapan kader bawah tanah untuk Indonesia.
Selain itu, Tan Malaka juga menulis karya-karya penting, seperti Naar de Republiek Indonesia (menuju Republik Indonesia) yang merupakan gagasan berdirinya republik yang merdeka jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, dan Madilog (Materialisme, Dialektika dan Logika) yang merupakan pemikiran filosofis yang mengakar pada rasionalitas dan mengesampingkan hal-hal klenik untuk membangun kesadaran kritis.
Tan Malaka cenderung berseberangan dengan pemikiran tokoh nasionalis lainnya. Konsekuensi yang harus dihadapinya, Tan Malaka tak jarang menjadi target penangkapan dan hidup secara nomaden, dari Burma, Cina, Filipina, dan kawasan Asia Tenggara lain, dengan bergonta-ganti identitas.
Sampai pada 1948, bersama dengan beberapa tokoh, yakni Chaerul Saleh, Soekarno dan Adam Malik, dia mendirikan Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba). Partai ini ditujukan untuk memperkuat adanya kemerdekaan 100% bagi rakyat Indonesia. Berkat inilah kemudian Tan Malaka dikenal sebagai pemimpin komunis nasionalis Indonesia.
Ironi Masa Akhir Hidup Hingga Senyap Dalam Dialektika Sejarah di Sekolah
Setelah kemerdekaan Indonesia, Tan Malaka menjadi pionir sayap kiri di Indonesia. Pada 1946 Tan malaka membentuk Persatuan Perjuangan sebagai upaya penolakan tegas terhadap tiap-tiap upaya diplomasi Belanda. Organisasi ini dipercaya menjadi dalang penculikan Sutan Syahrir yang ketika itu menjabat sebagai Perdana Menteri.
Karena peristiwa penculikan itulah Tan Malaka selama dua setengah tahun harus mendekam dalam jeruji besi tanpa melalui proses peradilan yang jelas. Tan Malaka bebas ketika terjadi pemberontakan FDR/PKI di Madiun pada 1948 yang diprakarsai Musso dan Amir Sjarifuddin. Selepasnya, Tan Malaka berangkat ke Kediri untuk membentuk pasukan Gerilya Pembela Proklamasi.
Ketika bergerilya, setelah terbentuknya Murba, Tan malaka sempat menyampaikan pidato yang menyerukan kepada rakyat untuk tidak percaya kepada kalangan imperialis Barat, menolak bentuk-bentuk konsolidasi, dan kemerdekaan hanya akan dicapai melalui revolusi angkat senjata melawan musuh. Pidato tersebut membuat Tan Malaka dituduh melakukan perencanaan pemberontakan. Pihak militer dari kubu pemerintah di Jawa Timur merasa tidak sepakat dengan seruan tentang kecenderungan memilih jalan perang dan tidak perlu melakukan perundingan.
Ketika di kediri pada 21 Februari 1949, Tan Malaka dieksekusi tanpa proses pengadilan dengan cara ditembak mati. Penyebab pasti eksekusi Tan Malaka masih belum diketahui dan masih menjadi perdebatan para sejarawan hingga saat ini. Disinyalir Tan Malaka menjadi korban konflik internal dan ketegangan politik pasca-kemerdekaan.
Warisan Pemikiran Bagi Bangsa Indonesia
Gagasan Tan Malaka tidak pernah benar-benar mati. Madilog hingga kini menjadi bacaan wajib bagi banyak cendekiawan dan aktivis. Buah pikiran Tan Malaka ini mendorong masyarakat Indonesia untuk mengedepankan rasionalitas kritis daripada logika mistika.
Konsep republik yang telah direalisasikan sebagai bentuk negara Indonesia, telah dirumuskan dalam buku Naar de Republiek Indonesia (1925) hasil pemikiran Tan Malaka sebelum munculnya tulisan milih Soekarno atau Hatta. Berkat ini, Tan Malaka lekat dengan julukan “Bapak Republik”.
Buku Gerilya, Politik dan Ekonomi, merupakan hasil pemikiran Tan Malaka ketika dalam penjara. Buku ini menjadi panduan revolusi yang memuat tentang perjuangan bersenjata, politik ideologis dan kemandirian ekonomi. Buah pemikiran Tan Malaka lainnya yang masih banyak ditinjau dalam dialog akademik dan kegiatan aktivisme adalah Aksi Massa dan Dari Penjara ke Penjara.
Meskipun pada 1963 pemerintah menetapkan Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional, namanya masih sepi dalam ruang-ruang akademika di sekolah. Tan Malaka juga belum mendapat ruang yang cukup dalam narasi sejarah resmi Republik Indonesia. Tanpa disadari, Tan Malaka memiliki kontribusi intelektual dan ideologis yang cukup berpengaruh bagi perkembangan Indonesia.
Senyapnya nama Tan Malaka dalam diskusi sejarah di sekolah disebabkan oleh beberapa alasan. Tan Malaka memiliki pandangan politik yang yang dianggap terlalu radikal dan berkecenderungan pada ideologi ‘kiri’. Selain itu pada era Orde Baru, pada dinamika politik dan bernegara terdapat pembatasan pada pembahasan tokoh-tokoh dan asosiasi ideologi kiri. Tan Malaka juga memiliki perjalanan hidup yang kompleks, mengalami pengasingan, berulang kali ditangkap serta memiliki ideologi yang berseberangan dengan ideologi yang dianut negara, membuatnya sulit untuk dijelaskan dalam narasi sejarah secara sederhana untuk pembelajaran.
Tan Malaka merupakan tokoh intelektual penting bagi Indonesia meskipun namanya kerap dikaburkan dalam narasi sejarah bangsa. Tan Malaka mungkin tidak memiliki banyak foto monumental, bahkan wafat dengan cara yang nahas. Kendati demikian gagasan milikinya tentang republik, rasionalitas kritis dan kebebasan berpikir menjadi warisan berharga bagi generasi Imdonesia mendatang.