Sosial Media

Apakah Sosial Media Mempengaruhi Fenomena FOMO (Fear of Missing Out)?

L Layla Puspa Hanifah Terverifikasi Penulis
8 Mei 2025, 07:28 4 menit baca 330x dilihat
Apakah Sosial Media Mempengaruhi Fenomena FOMO (Fear of Missing Out)?
Winnicode Officials

Pernah nggak sih, merasa gelisah saat melihat orang lain liburan, nonton konser, atau posting pencapaian baru tapi sementara kamu cuma rebahan di rumah? Atau panik sendiri karena grup chat ramai membahas event yang kamu nggak ikuti? Kalau iya, kemungkinan besar, kamu sedang mengalami FOMO alias Fear of Missing Out. FOMO adalah perasaan takut tertinggal dari sesuatu yang dianggap seru, penting, atau relevan. Bisa soal acara, tren, informasi, bahkan pengalaman emosional. Perasaan ini muncul saat kita merasa “orang lain punya sesuatu yang kita nggak punya” dan itu bikin kita jadi gelisah, iri, atau bahkan mempertanyakan hidup sendiri. Uniknya, FOMO bukan cuma sekadar “iri biasa”, tapi bisa berdampak nyata ke kondisi mental kita.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Manusia pada dasarnya memang punya kebutuhan untuk merasa terhubung, diterima, dan tidak tersisih. Tapi di zaman serba online seperti sekarang, intensitasnya jauh lebih tinggi. Informasi datang tanpa henti, dari ratusan arah, dan semuanya terlihat menarik. Otak kita dipaksa untuk terus waspada, takut ketinggalan sesuatu yang mungkin penting atau cuma kelihatan penting. Nah, di sinilah media sosial berperan. Bukan sebagai penyebab utama, tapi sebagai pemicu yang sangat kuat, dengan habbit scrolling media sosial seperti Instagram, TikTok, atau Twitter yang disuguhkan dengan pencapaian, liburan, acara besar, dan berbagai versi “hidup ideal” dari orang lain. Bahkan momen biasa pun terlihat luar biasa karena dibungkus dengan filter, caption bijak, atau angle yang sempurna. Kita tahu itu bukan realitas sepenuhnya tapi tetap saja, sulit untuk tidak membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan ideal orang lain yang kita lihat. Akibatnya, FOMO pun makin menguat.

Penelitian dari University of Essex mencatat bahwa sekitar 60% anak muda pernah mengalami FOMO hanya karena melihat unggahan teman-temannya. Studi lain dari APA menunjukkan bahwa semakin sering seseorang merasa “takut tertinggal”, semakin tinggi risiko kecemasan, stres, bahkan depresi. Gejala fisiknya pun nyata dari susah tidur, sulit fokus, sampai merasa nggak puas dengan hidup sendiri. Yang menarik, FOMO bukan cuma soal iri terhadap kesuksesan orang. Kadang kita bahkan merasa takut ketinggalan kekacauan atau masalah seperti ikut berkomentar di drama viral, takut nggak tahu gosip terbaru, atau sekadar ingin jadi bagian dari obrolan. Di sinilah FOMO berubah bentuk, dari rasa penasaran biasa, jadi dorongan psikologis yang bikin kita susah lepas dari layar.

Media sosial memperburuk hal ini bisa dengan dua hal yaitu unggahan milik orang lain dan algoritma personalisasi. Pertama, karena orang cenderung hanya menampilkan sisi terbaik hidupnya, kita jadi merasa kehidupan kita kurang sempurna. Kedua, algoritma platform secara otomatis menyajikan konten serupa dengan yang kita konsumsi. Jadi kalau kamu nonton satu video liburan orang lain, siap-siap dibombardir video liburan serupa sepanjang hari. Tanpa sadar, kamu masuk ke pusaran perbandingan sosial yang nggak ada ujungnya.

Tapi penting diingat bahwa FOMO adalah respons manusia yang sangat wajar. Ia muncul dari kebutuhan dasar untuk merasa belong, diikutsertakan, dan diakui. Namun kalau dibiarkan tanpa pengelolaan, FOMO bisa merusak cara kita memandang hidup, dan menggerus rasa puas terhadap diri sendiri. Lalu, apa yang bisa dilakukan?

Langkah pertama adalah menyadari bahwa you can’t be everywhere and do everything. Kita semua punya batas waktu, energi, dan prioritas. Tidak mengikuti satu tren bukan berarti tertinggal dari hidup. Selain itu, mulai latih diri untuk hadir di momen saat ini, apa yang sedang kamu alami, rasakan, dan nikmati. Banyak orang mengaku, ketika mereka mengurangi waktu di media sosial atau sekadar berhenti membandingkan, hidup terasa jauh lebih ringan. Kita juga bisa membangun koneksi yang lebih menarik di dunia nyata. Rasa kebersamaan yang kuat secara offline sering kali bisa menetralkan tekanan dari online. Dan jangan lupakan rasa syukur membiasakan diri mencatat hal-hal kecil yang membuat kita senang, bisa membantu menggeser fokus dari “apa yang tidak kita punya” ke “apa yang sebenarnya sudah cukup”.

Pada akhirnya, FOMO bukan sesuatu yang harus dilawan habis-habisan, tapi dipahami. Ia memberi sinyal bahwa kita butuh koneksi dan makna. Tantangannya adalah bagaimana kita bisa memenuhi kebutuhan itu, tanpa terus merasa tertinggal dalam perlombaan yang tidak ada garis finishnya.

Komentar 0

Komentar (0)

Sampaikan pendapat Anda dengan santun.

G
Anda belum masuk, komentar akan tampil sebagai Guest. Masuk
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.