Sosial

Indonesia sebagai Negara dengan Tingkat 'Fatherless' Tertinggi di Dunia

E Erliawan Lindhu Nusantara Terverifikasi Penulis
11 Maret 2025, 11:31 3 menit baca 8,201x dilihat
Indonesia sebagai Negara dengan Tingkat 'Fatherless' Tertinggi di Dunia
Winnicode Officials

Di Indonesia, fenomena 'fatherless' telah menjadi perhatian khusus. Menurut data dari United Nations Children’s Fund (UNICEF) pada tahun 2021, sekitar 20,9% anak di Indonesia tumbuh tanpa kehadiran ayah. Hal ini kemudian didukung oleh data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2021, yang menyatakan bahwa dari jumlah anak usia dini di Indonesia yang mencapai 30,83 juta jiwa, sekitar 2,67% atau 826.875 anak tidak tinggal bersama ayah dan ibu kandung, sementara 7,04% atau 2.170.702 anak hanya tinggal bersama ibu kandung. Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa sekitar 2.999.577 anak usia dini di Indonesia tidak tinggal bersama dengan ayahnya dan telah kehilangan sosok ayah.

'Fatherless' merujuk pada kurangnya atau tidak adanya kehadiran ayah dalam kehidupan anak, baik secara fisik maupun emosional. Secara fisik, anak tidak tinggal bersama ayahnya, sementara secara emosional, anak tidak memiliki hubungan dekat dengan ayahnya. Di Indonesia, fenomena ini semakin memprihatinkan dengan tingginya angka anak yang kehilangan sosok ayah dalam pengasuhan mereka.

Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap tingginya angka 'fatherless' di Indonesia antara lain:Budaya Patriarki: Budaya yang menempatkan laki-laki sebagai pencari nafkah utama dan perempuan sebagai pengurus rumah tangga membuat peran ayah dalam pengasuhan anak menjadi minim. (Farah.id)Tingginya Angka Perceraian: Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah perceraian di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2022, tercatat sebanyak 583.266 kasus perceraian, meningkat 15,31% dibandingkan tahun sebelumnya. (Medium.com)Tuntutan Ekonomi: Ayah yang bekerja sebagai pencari nafkah utama seringkali tidak memiliki waktu untuk terlibat dalam pengasuhan anak, sehingga anak kehilangan figur ayah dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiadaan peran ayah dapat berdampak signifikan pada perkembangan anak, antara lain: Masalah Perilaku: Anak cenderung menunjukkan perilaku agresif, kenakalan, dan penggunaan obat-obatan terlarang. (Medium.com), Masalah Emosional: Anak lebih rentan mengalami stres, rendah diri, depresi, dan kecemasan serta Kesulitan Akademik: Kehilangan figur ayah dapat mempengaruhi prestasi akademik anak

Peran ayah sangat penting dalam perkembangan anak, antara lain: Menjadi Panutan: Ayah berperan sebagai teladan dan pemberi contoh positif bagi anak, Dukungan Emosional: Kehadiran ayah memberikan dukungan emosional yang stabil bagi anak, Pembentukan Identitas Gender: Ayah membantu anak, terutama laki-laki, dalam membentuk identitas gender yang sehat serta Pengembangan Keterampilan Sosial: Interaksi dengan ayah membantu anak mengembangkan keterampilan sosial yang baik.

Beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengatasi fenomena 'fatherless' di Indonesia: Peningkatan Kesadaran: Meningkatkan kesadaran akan pentingnya peran ayah dalam pengasuhan anak melalui edukasi dan kampanye publik, Keterlibatan Ayah: Mendorong ayah untuk lebih terlibat dalam pengasuhan dan pendidikan anak, Dukungan Sosial: Menyediakan dukungan bagi keluarga yang mengalami kehilangan figur ayah, seperti melalui peran kakek, paman, atau mentor laki-laki lainnya, Konseling Keluarga: Menyediakan layanan konseling untuk keluarga yang menghadapi masalah, guna mencegah perceraian dan menjaga keutuhan keluarga, Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan fenomena 'fatherless' di Indonesia dapat diminimalkan, sehingga anak-anak dapat tumbuh dengan dukungan penuh dari kedua orang tua.

Komentar 0

Komentar (0)

Sampaikan pendapat Anda dengan santun.

G
Anda belum masuk, komentar akan tampil sebagai Guest. Masuk
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.