Teknologi

Ketika Semua Orang Bisa Jadi ‘Media’

L Laura Katherine Nainggolan Terverifikasi Penulis
26 April 2026, 05:32 2 menit baca 469x dilihat
Ketika Semua Orang Bisa Jadi ‘Media’
Winnicode Officials

Dulu, jadi media itu eksklusif. Harus punya redaksi, kantor, dan proses panjang sebelum sebuah berita tayang. Sekarang? Cukup satu akun dan koneksi internet siapa pun bisa jadi “media”.

Fenomena ini makin kelihatan di platform seperti TikTok, Instagram, dan X. Satu video 30 detik bisa ngalahin jangkauan berita TV. Satu thread bisa menggeser opini publik. Cepat, masif, dan… kadang terlalu instan.

Di satu sisi, ini powerful. Banyak isu yang dulu “sunyi” sekarang bisa naik ke permukaan karena diviralkan netizen. Kasus sosial, lingkungan, bahkan kebijakan publik bisa dapet spotlight karena dorongan digital. Media jadi lebih demokratis.

Tapi di sisi lain, muncul pertanyaan besar: kalau semua orang bisa jadi media, siapa yang bertanggung jawab atas kebenaran?

Kita sering lihat potongan video tanpa konteks langsung disimpulkan. Judul yang sengaja dipelintir biar clickbait. Atau opini yang dikemas seolah fakta. Dan karena disampaikan dengan percaya diri plus banyak yang setuju orang jadi gampang percaya.Inilah yang bikin batas antara “viral” dan “valid” makin blur.

Menariknya, generasi sekarang justru mulai adaptif. Mereka gak cuma konsumsi, tapi juga cross-check. Lihat komentar, bandingin sumber, bahkan cari versi lain dari cerita yang sama. Ini tanda bahwa audiens juga berkembang, gak sekadar pasif.

Akhirnya, mungkin pertanyaannya bukan lagi “media mana yang paling benar”, tapi “kita sebagai audiens seberapa bijak dalam menerima?”Karena di era ini, jadi melek media bukan cuma skill tambahan tapi survival skill.

Komentar 0

Komentar (0)

Sampaikan pendapat Anda dengan santun.

G
Anda belum masuk, komentar akan tampil sebagai Guest. Masuk
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.