Hindia dan Generasi 20-an: Musik yang Merangkum Kegelisahan Dewasa Muda
Nama Hindia kian lekat dengan keseharian kawula muda, terutama mereka yang berada di rentang usia 20–30 tahun. Lewat album
Lagipula Hidup Akan Berakhir, Baskara Putra seolah merangkum kegelisahan, kelelahan, dan pencarian makna hidup yang akrab dengan fase quarter life. Album ini tidak hanya menjadi suguhan musik, tetapi juga ruang refleksi emosional bagi generasi dewasa muda yang sedang bertumbuh.
Album yang dirilis sebagai lanjutan perjalanan musikal Hindia ini menghadirkan tema besar tentang kefanaan hidup, kegagalan, dan penerimaan diri. Tema-tema tersebut terasa dekat dengan realitas generasi muda yang tengah bergulat dengan karier, relasi, serta ekspektasi sosial.
Lirik Jujur yang Merepresentasikan Quarter Life Crisis
Salah satu kekuatan utama lagu-lagu Hindia adalah kejujuran liriknya. Dalam Lagipula Hidup Akan Berakhir, Hindia tak ragu menyinggung rasa lelah, kebingungan arah hidup, hingga ketakutan akan masa depan. Lirik-lirik ini merepresentasikan quarter life crisis yang kerap dialami dewasa muda, fase ketika seseorang mempertanyakan pencapaian, pilihan hidup, dan makna keberadaannya.
Alih-alih memberi solusi instan, Hindia justru mengajak pendengarnya untuk mengakui rasa tidak baik-baik saja. Pendekatan ini membuat lagu-lagunya terasa lebih manusiawi dan relevan.
Ulasan Lagu: Cermin Realitas Dewasa Muda
Salah satu album Hindia yang memperoleh kepopuleran masif adalah album Lagipula Hidup Akan Berakhir. Secara musikal, album ini tidak mengandalkan aransemen yang rumit. Hindia memilih pendekatan sederhana agar pesan dalam lirik dapat tersampaikan dengan utuh. Pilihan ini membuat lagu-lagunya mudah diterima oleh pendengar dari berbagai latar belakang, sekaligus memperkuat kesan intim.
Beberapa lagu dalam album Lagipula Hidup Akan Berakhir menjadi sorotan karena kedekatannya dengan pengalaman hidup usia 20-an.
Dalam album Lagipula Hidup Akan Berakhir, “Janji Palsu” menghadirkan narasi tentang perasaan kecewa, keputusasaan, dan perasaan tertekan. Liriknya mencoba membongkar kefanaan yang melingkupi pencapaian seperti karier atau kekayaan. Lagu ini terasa dekat dengan dewasa muda yang tumbuh dengan ekspektasi, tentang cinta, stabilitas, dan masa depan, namun perlahan menyadari bahwa realitas sering kali tidak seideal yang dibayangkan.
Sementara itu, “Satu Hari Lagi” menangkap kondisi bertahan hidup secara emosional. Liriknya menggambarkan seseorang yang tidak sedang mengejar kebahagiaan besar, melainkan sekadar berusaha melewati hari. Lagu ini merepresentasikan kelelahan mental dewasa muda yang terjebak dalam rutinitas, tuntutan produktivitas, dan tekanan hidup, hingga harapan paling realistisnya hanyalah mampu bertahan satu hari lagi.
Pada “Iya Sebentar”, Hindia menyoroti banyak tekanan dan tuntutan yang dihadapi orang-orang berusia 20-an. Liriknya mencerminkan sikap defensif seseorang yang terus meminta waktu. Alasannya bukan karena malas, tetapi karena butuh mempersiapkan diri untuk melangkah. Lagu ini sangat relevan dengan fase quarter life, ketika dewasa muda sadar bahwa waktu terus berjalan, namun diperlukan perencanaan matang untuk mengambil keputusan besar.
Lagu “Alexandra” tampil sebagai potret kegagalan dan penyesalan untuk seorang anak karena pola asuh yang buruk. Liriknya menyiratkan relasi yang dijalani tanpa komunikasi setara, di mana satu pihak lebih banyak menunggu dan memahami. Lagu ini merefleksikan pengalaman dewasa muda yang terjebak dalam hubungan abu-abu, tidak sepenuhnya bahagia, tetapi juga sulit dilepaskan karena keterikatan emosional.
Adapun “Masalah Masa Depan” menjadi salah satu lagu paling lugas dalam album ini. Liriknya secara terbuka menyuarakan kecemasan tentang hidup perihal masa depan, soal pekerjaan, arah hidup, dan rasa takut gagal memenuhi standar yang terus menekan. Lagu ini terasa sebagai suara kolektif generasi produktif yang hidup di tengah ketidakpastian, ketika masa depan dipikirkan setiap hari, tetapi jawabannya tak pernah benar-benar jelas.
Persona Autentik yang Dekat dengan Pendengar
Hindia juga dikenal sebagai musisi yang tidak menggurui. Ia tidak memosisikan diri sebagai sosok yang sudah selesai dengan hidupnya. Justru, ketidaksempurnaan itulah yang membuat banyak dewasa muda merasa terhubung. Lagu-lagunya terasa seperti obrolan jujur dengan teman yang sama-sama sedang berproses.
Melalui album Lagipula Hidup Akan Berakhir, Hindia berhasil merangkum keresahan dewasa muda dalam bentuk musik. Lagu-lagunya menjadi semacam dokumentasi emosional generasi 20-an, perihal kelelahan, keragu-raguan, dan upaya menerima hidup apa adanya. Selama fase quarter life masih menjadi bagian dari perjalanan banyak anak muda, karya-karya Hindia akan terus menemukan tempat di hati pendengarnya.