#FuturePeople: Mengulik Kampanye yang Diam-Diam Lagi “Membentuk” Generasi Baru
Belakangan ini, hashtag #FuturePeople oleh Future Skills by Pijar Foundation mulai sering muncul di konten edukasi, campaign brand, sampai diskusi anak muda di media sosial. Sekilas terlihat seperti tren biasa. Tapi kalau diulik lebih dalam, ini bukan sekadar hashtag. Ini adalah narasi baru tentang bagaimana generasi sekarang “dipersiapkan” untuk masa depan. Kampanye #FuturePeople sebenarnya berdiri di atas keresahan yang nyata.
Dunia kerja berubah cepat, teknologi berkembang tanpa pause, dan jalur hidup yang dulu “aman” sekarang nggak lagi relevan. Di tengah kondisi ini, muncul kebutuhan untuk membentuk identitas baru: individu yang fleksibel, adaptif, dan siap menghadapi ketidakpastian.
Alih-alih menjual produk secara langsung, banyak brand dan platform mulai menjual mindset. Mereka membangun cerita bahwa untuk survive di masa depan, kita harus jadi versi terbaik dari diri kita yang terus belajar, berkembang, dan berani keluar dari zona nyaman.Menariknya, pendekatan ini terasa lebih “relatable”. Kontennya sering dikemas dalam bentuk yang ringan: video singkat, carousel edukatif, sampai storytelling personal. Pesannya juga nggak menggurui.
Lebih ke arah, “this could be you” dan itu yang bikin banyak orang merasa terhubung.Tapi di balik itu, ada strategi komunikasi yang cukup kuat. Campaign seperti #FuturePeople nggak cuma membangun awareness, tapi juga aspiration. Orang nggak cuma paham konsepnya, tapi juga mulai merasa, “gue pengen jadi bagian dari itu.”Ini yang bikin campaign ini powerful.
Karena ketika sebuah ide sudah berubah jadi identitas, dia nggak perlu lagi dipromosikan secara agresif orang-orang akan dengan sendirinya menyebarkannya.Namun, penting juga untuk tetap kritis. Apakah narasi ini inklusif untuk semua orang? Atau justru hanya relevan untuk mereka yang punya akses lebih terhadap pendidikan dan teknologi?
Apakah “jadi future people” adalah pilihan, atau perlahan jadi tekanan sosial baru?
Di titik ini, #FuturePeople jadi lebih dari sekadar campaign. Ia berubah jadi refleksi zaman tentang bagaimana kita melihat masa depan, dan posisi kita di dalamnya.
Jadi, mungkin pertanyaan yang lebih menarik bukan “apa itu future people?”
Tapi, siapa yang mendefinisikannya?