Nasib Media Massa di Tengah Kepungan Akun Viral
Dulu, jika kita ingin mengetahui berita atau peristiwa terbaru yang sedang terjadi di dunia, kita pasti langsung menyalakan televisi, mendengarkan radio, atau membeli koran di pagi hari. Namun, lanskap industri media saat ini sudah berubah total. Gerbang informasi kini telah sepenuhnya berpindah ke layar ponsel pintar kita. Kita sedang hidup di era hiper-konektivitas, di mana sebuah informasi atau peristiwa bisa menyebar dan diakses oleh jutaan orang dalam hitungan detik saja melalui platform media sosial seperti TikTok, Instagram, Threads, maupun X (Twitter).
Kondisi digital yang serba cepat ini memicu tantangan yang luar biasa besar bagi perusahaan media massa resmi atau media arus utama (mainstream media). Saat ini, muncul sebuah fenomena unik yang sering disebut dengan istilah homeless media atau akun-akun informasi publik liar. Akun-akun viral ini, meskipun tidak berbadan hukum resmi dan tidak memiliki sertifikasi jurnalisme, sering kali punya jumlah pengikut, penonton, serta tingkat interaksi (engagement) yang jauh lebih besar daripada akun milik media berita resmi.
Akibatnya, industri media massa konvensional menghadapi dilema yang sangat berat. Di satu sisi, mereka harus bersaing mengejar kecepatan demi mendapatkan klik dari pembaca (clickbait) agar dapur perusahaan tetap mengepul lewat iklan digital. Di sisi lain, mereka memiliki tanggung jawab moral dan hukum untuk tetap mempertahankan ketepatan, akurasi, dan netralitas berita melalui proses pengecekan fakta yang ketat, di mana proses ini tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Ketika media massa terjebak ikut-ikutan gaya akun viral demi mengejar sensasi, kualitas jurnalisme taruhannya. Ruang publik kemudian dipenuhi oleh berita-berita permukaan yang kurang mendalam, bombastis, dan kadang melupakan etika komunikasi publik.
Namun, di tengah kepungan tersebut, nasib media massa sebenarnya tidak sepenuhnya suram. Masyarakat atau netizen lambat laun mulai mengalami kejenuhan informasi (infobesity). Meskipun konten-konten receh dan sensasional di akun viral sangat menghibur untuk mengisi waktu luang, ketika ada peristiwa besar, bencana alam, atau isu politik yang sensitif, publik pada akhirnya akan tetap kembali mencari kebenaran ke media massa yang resmi dan kredibel. Mengapa? Karena media resmi memiliki badan hukum yang jelas dan bisa dimintai pertanggungjawaban jika informasi yang mereka sampaikan keliru.
Kunci utama agar media massa bisa bertahan di tengah kepungan akun viral adalah dengan cara beradaptasi tanpa harus kehilangan jati diri. Media massa tidak boleh lagi bersikap kaku. Mereka harus mulai memanfaatkan format video pendek yang kasual, infografis yang menarik, serta gaya bahasa yang lebih santai untuk menyampaikan berita-berita berat seperti hukum, politik, dan ekonomi. Dengan mengemas informasi berkualitas ke dalam wadah yang disukai oleh generasi muda saat ini, media massa akan tetap menjadi rujukan utama yang tepercaya di tengah lautan informasi digital.