Kesalehan yang Tidak Perlu Diumumkan
Di tengah ruang publik yang semakin bising oleh klaim, pengakuan, dan simbol religius, sebuah pandangan lama justru terasa relevan kembali, bahwa kedekatan spiritual tidak selalu membutuhkan pengumuman. Syekh Nuruddin ar-Raniri, seorang ulama dan sufi besar Nusantara abad ke-17, pernah menegaskan bahwa mereka yang benar-benar dekat dengan Tuhan justru jarang membicarakan kedekatan itu. Pernyataan ini bukan bentuk anti-ekspresi iman, melainkan kritik halus terhadap kecenderungan manusia menjadikan spiritualitas sebagai identitas sosial, bukan perjalanan batin.
Dalam tradisi tasawuf, kedekatan dengan Tuhan dipahami sebagai pengalaman internal yang mendalam, bukan pencapaian yang dipamerkan. Ar-Raniri, yang dikenal melalui karya-karya seperti Bustanus Salatin, menempatkan keikhlasan sebagai inti dari spiritualitas. Menurut para sufi, semakin seseorang tenggelam dalam kesadaran ketuhanan, semakin kecil dorongan untuk membicarakan dirinya. Hal ini sejalan dengan konsep ikhlas dan khauf, yakni kesadaran akan kebesaran Tuhan yang justru membuat manusia merasa kecil dan berhati-hati dalam berkata-kata.
Fenomena ini juga dapat dijelaskan melalui pendekatan psikologi religius. Studi dalam Journal of Psychology and Theology menunjukkan bahwa individu dengan religiositas intrinsik, yaitu iman yang tumbuh dari kesadaran pribadi, cenderung lebih rendah dalam perilaku pamer spiritual dibanding mereka yang memiliki religiositas ekstrinsik. Religiusitas yang tulus lebih banyak tercermin dalam tindakan sehari-hari, seperti, kesabaran, kejujuran, empati, dan ketenangan, bukan dalam narasi verbal tentang seberapa dekat dirinya dengan Tuhan. Dengan kata lain, kualitas batin sering kali berbanding terbalik dengan kebutuhan untuk mengakuinya.
Dalam konteks sosial modern, spiritualitas kerap terjebak dalam performativitas. Media sosial mempercepat proses ini dengan menjadikan ekspresi keimanan sebagai konten yang bisa dinilai, disukai, dan dibandingkan. Padahal, banyak ulama klasik mengingatkan bahwa terlalu sering membicarakan amal dan kedekatan rohani justru berisiko menggerus keikhlasan. Imam Al-Ghazali, misalnya, menyebut ujub dan riya' sebagai penyakit halus yang sering menyusup tanpa disadari dalam praktik keagamaan.
Pada akhirnya, pesan ar-Raniri mengajak manusia untuk menata ulang orientasi spiritualnya. Kedekatan dengan Tuhan bukanlah gelar, status, atau narasi, melainkan keadaan batin yang tercermin dalam sikap hidup. Diam yang penuh makna, rendah hati dalam laku, dan konsisten dalam kebaikan sering kali menjadi tanda paling jujur dari iman yang matang. Dalam dunia yang gemar bicara, barangkali spiritualitas sejati justru tumbuh dalam keheningan.
Referensi:
- Ar-Raniri, N. (1638). Bustanus Salatin.
- Al-Ghazali. Ihya Ulumuddin.
- Hood, R. W., Hill, P. C., & Spilka, B. (2009). The Psychology of Religion. Guilford Press.
- Journal of Psychology and Theology (2017). Intrinsic vs Extrinsic Religious Orientation.