Info Penting

Fakta Singkat: Mengapa Kita Suka Mengingat Hal Negatif Lebih Lama?

M Muslim Hadait Terverifikasi Penulis
2 Desember 2025, 16:58 2 menit baca 692x dilihat
Fakta Singkat: Mengapa Kita Suka Mengingat Hal Negatif Lebih Lama?
Winnicode Officials

Pernahkah Anda merasa bahwa satu komentar buruk bisa menghantui pikiran selama berhari-hari, sementara sepuluh pujian yang tulus justru cepat menghilang? Atau ketika satu kesalahan kecil di masa lalu terus teringat, padahal sudah banyak hal baik yang Anda lakukan setelahnya? Fenomena ini bukan kebetulan dan bukan pula kelemahan pribadi. Demikian adalah bagian dari cara kerja otak manusia. Secara ilmiah, manusia memang cenderung lebih mudah mengingat pengalaman negatif dibandingkan yang positif. 

Fenomena ini disebut negativity bias, yaitu kecenderungan otak untuk lebih peka terhadap ancaman, kegagalan, atau emosi negatif. Bias ini terbentuk sejak zaman nenek moyang kita. Pada masa ketika manusia hidup dekat dengan bahaya alam, kemampuan mengingat ancaman dapat menyelamatkan hidup. Mengingat lokasi hewan buas, tanaman beracun, atau situasi berbahaya membantu manusia bertahan. Walaupun dunia kini jauh lebih aman, mekanisme itu masih tetap tertanam kuat dalam otak kita.

Selain itu, bagian otak yang mengolah emosi negatif terutama amigdala yang bekerja lebih cepat dan lebih intens daripada area yang memproses emosi positif. Ketika sesuatu yang buruk terjadi, otak mengirim sinyal ‘prioritas tinggi’ untuk menyimpannya agar kita waspada di masa depan. Sementara emosi positif diproses dengan cara yang lebih halus, sehingga lebih mudah hilang jika tidak diulang atau diingat secara sadar. Namun, kecenderungan ini juga berdampak pada kesehatan mental. Kita bisa merasa tidak cukup baik, terlalu keras pada diri sendiri, atau sulit merasa bahagia meski banyak hal baik terjadi dalam hidup. 

Fokus berlebih pada hal negatif membuat hidup tampak lebih berat daripada kenyataannya. Kabar baiknya: negativity bias bukan sesuatu yang tidak bisa diubah. Dengan latihan mental tertentu, kita bisa melatih otak agar lebih seimbang. Misalnya, membiasakan diri mencatat tiga hal baik setiap hari, lebih memperhatikan pujian daripada kritik, atau melatih diri untuk berhenti sejenak ketika pikiran negatif muncul. Latihan sederhana ini membantu otak membangun “jalur positif” yang lebih kuat.

Pada akhirnya, mengingat hal negatif lebih lama bukan berarti kita lemah yang justru itu menunjukkan betapa kompleks dan kuatnya otak manusia. Tetapi kita juga diberi kemampuan untuk memilih, membentuk, dan mengarahkan pikiran. Mengelola apa yang kita ingat adalah langkah kecil yang dapat mengubah cara kita memandang diri sendiri dan dunia.

Komentar 0

Komentar (0)

Sampaikan pendapat Anda dengan santun.

G
Anda belum masuk, komentar akan tampil sebagai Guest. Masuk
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.