Intertaiment

Denny Caknan Guncang Purbalingga, “Konser Warisan Rasa” Jadi Pesta Rakyat dan Angkat Ekonomi Lokal

N Nofita Nur Safitri Terverifikasi Penulis
14 November 2025, 03:14 2 menit baca 918x dilihat
Denny Caknan Guncang Purbalingga, “Konser Warisan Rasa” Jadi Pesta Rakyat dan Angkat Ekonomi Lokal
Winnicode Officials

Purbalingga, 12 November 2025 — Alun-Alun Purbalingga malam itu berubah menjadi lautan manusia. Ribuan penonton memadati lapangan kota untuk menyaksikan penampilan Denny Caknan dalam konser bertajuk “Warisan Rasa”. Meski hujan sempat turun sejak sore, antusiasme warga tak surut sedikit pun.

Konser ini digelar gratis untuk umum dan menjadi magnet hiburan bagi masyarakat lintas daerah. Penonton datang bukan hanya dari Purbalingga, tapi juga dari Banyumas, Banjarnegara, Cilacap, Pemalang, hingga Wonosobo. Sejak sore, warga sudah berdatangan dengan mengenakan atribut khas Denny Caknan — kaus, syal, hingga poster buatan sendiri.

Begitu penyanyi asal Ngawi itu naik ke panggung, sorak-sorai membahana. Lagu “Kalih Welasku” langsung membuat suasana pecah. Disusul “Cundamani”, “Dumes”, “Sigar”, dan “Sinarengan”, ribuan suara penonton ikut bernyanyi serentak. Puncak acara ditutup dengan gegap gempita, diiringi gemerlap kembang api di langit Purbalingga.

Tak hanya jadi ajang hiburan, konser ini juga membawa dampak ekonomi positif. Ratusan pedagang kaki lima yang berjajar di sekitar alun-alun kebanjiran pembeli. Penjualan makanan, minuman, dan merchandise bertema Denny Caknan melonjak tajam. Banyak pedagang mengaku pendapatannya meningkat drastis dibanding hari biasa.

Pemerintah daerah menilai, acara ini bukan sekadar konser, tapi juga wadah pemulihan ekonomi lokal pasca-pandemi. Ribuan pengunjung yang datang otomatis menggairahkan sektor UMKM, transportasi, dan pariwisata daerah.

Dengan konsep pertunjukan yang sederhana namun hangat, Denny Caknan berhasil menunjukkan bahwa musik dangdut-pop Jawa tetap punya tempat istimewa di hati masyarakat. “Warisan Rasa” tak hanya meninggalkan dentuman musik, tapi juga rasa kebersamaan yang jarang ditemukan di era digital seperti sekarang.

Malam itu, Purbalingga benar-benar “ambyar” — tapi dalam arti yang paling indah.

Komentar 0

Komentar (0)

Sampaikan pendapat Anda dengan santun.

G
Anda belum masuk, komentar akan tampil sebagai Guest. Masuk
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.