Peristiwa

Penemuan Dua Kerangka di Gedung ACC Kwitang Terkuak sebagai Korban Hilang Aksi 29 Agustus 2025

N Nofita Nur Safitri Terverifikasi Penulis
12 November 2025, 03:20 3 menit baca 888x dilihat
Penemuan Dua Kerangka di Gedung ACC Kwitang Terkuak sebagai Korban Hilang Aksi 29 Agustus 2025
Winnicode Officials

Sebuah perkembangan memilukan terjadi dalam kasus orang hilang pasca-kerusuhan aksi massa pada 29 Agustus 2025 di sekitar kawasan Kwitang, Jakarta Pusat. Tim forensik dari Polri melalui proses identifikasi resmi menyatakan bahwa dua kerangka manusia yang ditemukan di dalam gedung ACC (Astra Credit Companies) di Kwitang adalah Muhammad Farhan Hamid dan Reno Syahputradewo, yang dilaporkan hilang sejak akhir Agustus lalu.

Kronologi Singkat

  • Aksi massa berlangsung pada 25–31 Agustus 2025, dengan puncak peristiwa di Kwitang pada 29 Agustus ketika gedung ACC di kawasan tersebut terbakar dan menjadi lokasi kerusuhan.
  • Setelah kebakaran dan kerusuhan, laporan orang hilang pun muncul. Dari 44 nama yang dilaporkan, 40 ditemukan atau dikonfirmasi keberadaannya, sementara empat orang masih belum—termasuk Farhan dan Reno.
  • Pada 30 Oktober 2025, dua kerangka ditemukan tertimbun reruntuhan dan plafon gedung ACC Kwitang. Proses olah TKP kemudian dilakukan.
  • Tes DNA yang diumumkan pada 7 November 2025 menunjukkan kecocokan dengan keluarga Farhan dan Reno, sehingga keduanya dapat diidentifikasi secara resmi. 

Hasil Pemeriksaan Forensik

Pihak kepolisian menyebut bahwa kedua korban tewas karena terbakar, bukan karena tanda kekerasan seperti benturan atau luka akibat penyerangan. Dalam data pemeriksaan disebutkan sisa tulang-tulang seperti tengkorak, tulang panjang dan panggul ditemukan, dan tidak terdapat bukti cedera tumpul yang khas akibat kekerasan. Meski demikian, waktu penemuan yang lama—dua bulan pasca peristiwa—menimbulkan banyak pertanyaan terkait kondisi lokasi dan proses penelusuran awal.

Penemuan ini memunculkan sejumlah catatan penting:

  • Identifikasi Farhan dan Reno membuka pertanyaan lebih lanjut tentang bagaimana proses penanganan orang hilang pasca kerusuhan dijalankan, termasuk apakah ada langkah pencegahan atau pencarian yang lebih cepat.
  • Meskipun sebagian besar orang hilang telah ditemukan, dua korban ini baru diidentifikasi setelah cukup lama, yang bisa menimbulkan keresahan di masyarakat dan keluarga korban.
  • Kasus ini menjadi sorotan bagi lembaga HAM, penggiat hak sipil, dan keluarga korban karena menyangkut hilangnya nyawa di tengah aksi massa dan kerusuhan.

Reaksi Keluarga & Publik

Keluarga masing-masing korban menyambut hasil identifikasi dengan tangis dan kelegaan yang bercampur duka. proses ini dianggap sebagai penutup sebagian dari luka panjang atas hilangnya mereka. Namun, banyak pihak publik dan aktivis mengingatkan bahwa identifikasi saja tidak cukup; perlu dilanjutkan dengan investigasi menyeluruh agar tidak ada orang yang tertinggal dan agar hak korban benar-benar ditegakkan. Kasus penemuan kerangka Farhan dan Reno ini bukan sekadar tragedi pribadi, tetapi juga refleksi atas bagaimana negara, aparat penegak hukum, dan masyarakat menghadapi konsekuensi aksi massa, kerusuhan, dan orang hilang. Bagi generasi muda dan mahasiswa—termasuk kamu—kasus seperti ini menegaskan bahwa hak hidup dan hak untuk tidak hilang tanpa jejak adalah bagian dari tanggung jawab sosial dan bangsa.

Komentar 0

Komentar (0)

Sampaikan pendapat Anda dengan santun.

G
Anda belum masuk, komentar akan tampil sebagai Guest. Masuk
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.